Baca sebelumnya sinopsis Orange Marmalade episode 2.
Sinopsis Orange Marmalade Episode 3 (Bagian 1)


Kisah Romance – Mari yang main gitar di depan rumah ingat jika dirinya hampir selalu bertemu Jaemin. Dia juga ingat ketika Jaemin menirukannya mengisap leher seperti pernah dilakukannya di dalam kereta. “Kenapa harus selalu kamu?” gumam Mari lirih.
Shihoo keluar kamar Joseph dan menemukan buku notasi musik Mari. Saat membacanya, dia menyenandungkan lagu mengikuti not yang Mari tuliskan. Di halaman terakhir, dia menemukan pesan Jaemin yang mengajak Mari bergabung dengan band sekolah. Dia meremas kertas catatan itu dan meletakkan kembali buku Mari di atas bufet. Tapi dia menyesal dan mengembalikan kertas catatan itu kembali di tempatnya.
Jaemin asyik bermain basket sendirian. Dia menghela napas, galau! Terdengar suara narasi Mari menyebutkan darah Jaemin manis dan sulit ditolak. Dia merasa, sebagai vampir, berbahaya berada dekat-dekat dengan Jaemin, tapi kenapa selalu Jaemin yang mengisi otak dan hatinya. Dia memetik gitar pelan dengan tatapan kosong.
Shihoo sarapan bareng keluarga Mari. Mari sendiri baru keluar kamar dan langsung mau berangkat sekolah. Dia bahkan menolak sarapan, takut telat. Shihoo ikutan buru-buru dengan menandaskan jus darah sekali tenggak.


Di tengah jalan, Mari minta Shihoo pura-pura tidak mengenalnya saat di sekolahan dan pergi dengan kereta yang berbeda. Shihoo menolak ide tersebut. Dia kesal dan merasa Mari telah banyak berubah sekarang. Mari menegaskan tak ingin dicap aneh oleh teman-teman. Itu malah bikin Shihoo tambah kesal. Dia menegaskan bahwa dirinya tidak mau tinggal di rumah Mari kalau bukan karena terpaksa.
Shihoo berkata, “Vampir seperti kita itu perlu...” Mari membungkam mulut Shihoo, takut ada yang mendengar ucapan Shihoo. Shihoo menepis tangan Mari. Dia merasa Mari hidup dalam kehati-hatian. Mari menyalahkan Shihoo, karena melakukan wawancara dan mempertontonkan kemampuannya beregenerasi. Dia takut itu membahayakan semuanya, terutama rahasia dirinya dan keluarganya.
Shihoo mengaku telah di blacklist oleh VCS. Bila dia melakukan kesalahan lagi, hukuman An Chi sudah menunggu. Mari sedikit kaget. Pun begitu dia masih menyalahkan Shihoo. Tindakan Shihoo membuat semua vampir kabur dan ngumpet. Shihoo membela diri. Apa yang terjadi bukanlah kesalahannya! Para vampir saja yang hidup dalam kebohongan, sehingga mereka harus selalu waspada.
Mari terdiam sejenak. Dia menegaskan bahwa dirinya hanya ingin lulus sekolah. “Nggak karena si Jung Jaemin itu?” Shihoo menyindir, “Sepertinya dia naksir sama kamu!” Mari kaget sekaligus marah. Dia pergi. Shihoo berteriak jika Jaemin bukanlah orang yang bisa dipercaya. Mari berhenti dan berbalik. “Bukankah itu cara lain untuk mengatakan dia ganteng?” tanya Mari, tidak terima dengan opini Shihoo.
Shihoo mendekati Mari. Dia memastikan andai saja Jaemin tahu siapa Mari sebenarnya, pasti akan langsung meninggalkan Mari. Mari sadar hal itu. Eh Shihoo belum mau berhenti. Dia berniat membongkar rahasia Mari, sehingga akan terlihat reaksi Jaemin nanti. Mari menyuruh Shihoo berhenti mengocehkan hal tak berguna. Matanya tajam berapi-api.


Shihoo memandangi Mari sebentar. Dia menoyor kepala Mari dengan jari telunjuk, “Tenanglah!” Dia pergi meninggalkan Mari. Mari melepaskan kekesalannya melalui helaan napasnya.
Di dalam kelas, guru tengah memberikan pelajarannya. Mari tidak memperhatikan pelajaran. Matanya fokus melihat punggung Jaemin. Seolah merasa diperhatikan, Jaemin menoleh ke arah Mari, lama. Mari langsung menundukkan kepala. Ahra dan Shihoo melihat Jaemin tengah memperhatikan Mari.
Setelah Jaemin kembali memperhatikan pelajaran. Shihoo terlihat kesal pada Jaemin, cieh cemburu niye. Mari memandangi Jaemin kembali. Shihoo melihat Mari, ada yang panas nih. Jam pelajaran berikutnya, Shihoo membolos, duduk di atap sekolah. Dia melihat jam tangannya.


Kilas balik. Shihoo hadir dalam ucapara pernikahan Guru Yoonjae dan Mamanya Jaemin. Sehabis mengucapkan selamat pada mereka berdua, dia melihat anak cowok yang di nametag seragamnya ada nama Jung Jaemin. Shihoo mendekati Jaemin yang duduk di bangku taman. Dia main gitar bersama Jaemin.
“Kamu mau tahu rahasia menakutkan?” tanya Jaemin, nada suaranya terdengar marah, “Hari ini, Mamaku menikahi vampir! Mereka seharusnya mati!” Sehabis itu, dia pergi meninggalkan gitarnya. Ketika Shihoo memanggilnya, Jaemin menyuruhnya menyimpan atau membuat gitar itu. Shihoo membuka tas gitar Jaemin. Di situ, dia menemukan foto Jaemin dan Mamanya. Kilas balik selesai.
Jaemin main basket bersama teman-teman. Dia terlihat piawai menggiring bola. Begitu, dia berhasil memasukkan bola ke dalam keranjang, cewek-cewek bersorak menyerukan nama Jae Min. Bola menggelinding ke arah pintu. Shihoo yang baru saja datang memungutnya. Dia menatap marah pada Jaemin. Jaemin tahu itu.


Shihoo dan Jaemin bertarung satu lawan satu. Sambil memantul-mantulkan bola, Shihoo membicarakan ketidakcocokan Jaemin dengan Mari. Kesal, Jaemin berusaha merebut bola dari tangan Shihoo dengan mendorong bahunya. Dia minta Shihoo tidak perlu bersikap pura-pura sebagai teman.
Shihoo mencemooh Jaemin yang takkan mungkin bisa mengerti Mari apa adanya. Jaemin merebut bola dari tangan Shihoo – membuat Shihoo jatuh –, langsung memasukkannya ke dalam keranjang. Sekilas Jaemin menatap Shihoo, lalu memendarkan pandangan ke arah cewek-cewek yang mengelu-elukan namanya. Seperginya Jaemin, Shihoo menendang bola basket untuk melampiaskan kemarahannya. Bola itu tepat mengenai temannya.


Shihoo bermain gitar, lalu memandangi foto Jaemin dan Mamanya. Dia bergumam, “Mari, apa bagusnya suka pada manusia?” Joseph yang bermain mobil-mobilan menatap Shihoo dengan aneh. Dia pun mengajak Shihoo main mobil-mobilan. Shihoo menyanggupinya.
Jaemin ingin menemui Mari di kafe tempat Mari bernyanyi. Sesaat kemudian, dia mengurungkan niatnya untuk menemui Mari dan beranjak pergi, tapi dia justru mendengar suara Mari bicara pada seseorang ditelpon, membicarakan Joseph yang menghilang. Mari buru-buru keluar dari kafe.
Mari berpapasan dengan Jaemin yang masih ada di depan kafe. “Siapa Joseph?” tanya Jae Min. Mari menjawab, “Adikku.” Dia mengaku tidak bisa bicara lebih lama, karena dia harus pergi. Jaemin menahan Mari dan mengecek HP-nya Mari untuk mencari foto Joseph. Setelah dapat, dia mengirimkan foto itu ke HP-nya dan bertanya di mana kira-kira Joseph menghilang. “Taman Woosuk!” sahut Mari singkat dan minta HP-nya segera dikembalikan.
Jaemin mem-broadcast teman-temannya ke sesama pengguna “MessageMe”, semacam aplikasi chating gitu deh. Dalam broadcast-nya, Jaemin meminta tolong teman-teman untuk menghubunginya bila melihat Joseph.


Di taman, Shihoo yang kebingungan mencari Joseph mendapatkan broadcast dari Jaemin. Papa-Mama Mari datang. Mereka merasa Joseph tidak ada di taman. Karena Joseph belum bisa bicara, mereka harus menemukan Joseph. Shihoo bengong. Papa Mari menjelaskan vampir kecil seperti Joseph belum bisa bicara dan mengontrol insting vampir mereka. Jadi, dia tidak diperbolehkan sendirian di lingkungan manusia. Shihoo makin merasa bersalah.
Salah seorang teman Jaemin yang mendapat broadcast memberitahu kalau Joseph bukan berada di Taman Woosuk, melainkan taman yang ada di dekat apartemen Yojae. Jaemin segera menelpon Mari dan menyuruhnya datang ke taman yang dimaksud. Mari cus ke TKP.
Jaemin yang tiba lebih dulu segera mendekati Joseph. Dia berusaha membujuk Joseph untuk mau ikut bersamanya dengan bersikap ramah. Joseph diam saja, walaupun Jaemin telah menyebutkan dirinya adalah teman Mari. Jaemin mengatakan akan membawa Joseph pulang. Dengan cepat Joseph memeluk Jaemin.


Jaemin menepuk-nepuk punggung Joseph tanpa menyadari kalau bocah vampir itu telah berubah mengerikan dengan gigi taring mencuat keluar. Joseph siap menancapkan giginya ke leher Jaemin. Beruntung Mari tiba tepat pada waktunya. Dia langsung menarik Joseph. Begitu dapat, dia langsung pergi meninggalkan Jaemin yang heran, kenapa Mari sekasar itu padanya.
Mari mendudukkan Joseph di sebuah bangku dan berjongkok di depan Joseph untuk mengatakan, “Kamu tidak boleh melakukan itu pada manusia. Mengerti?” Joseph terdiam. Mari mengulangi kata-katanya lebih keras. Joseph menangis. Dia merasa dimarahi. Tetap, Mari menegaskan kalau Joseph tidak boleh melakukan itu pada manusia. Tidak lama kemudian, Mari ikutan mewek.
Mama menelpon Mari yang memberitahu kalau Joseph sudah ditemukan. Ketika ditanya mereka ada di mana, Mari tidak menjawab dan malah menangis. Jelas, Mama khawatir, terlebih setelah Mari menutup telponnya.
Di TKP, Mari menangis makin keras. Dia memeluk adiknya.
Di sekolahan, anak-anak sibuk membicarakan Mari. Mereka bergosip kalau Mari adalah tipe cewek ideal Jaemin. Demi cewek itu, Jaemin mau repot-repot nge-broadcast ke semua orang untuk membantu mencari adik Mari yang hilang. Anak-anak menuding Mari sebagai cewek yang tidak punya sopan santun. Mari mendengar itu.
Di depan pintu kelas, Mari berpapasan dengan Jaemin tapi tak ada tegur sapa. Melihat itu, teman sebangku Jaemin bertanya apa yang terjadi? Jaemin tidak menjawab dan pergi. Sepertinya Jaemin masih kesal atas sikap kasar Mari di taman.
Mari terlihat kecewa melihat Jaemin pergi, meskipun dia diam saja. Ketika masuk ke sekolah, dia mendengar cibiran miring apa hubungan Mari dan Jaemin? Apa mereka pacaran? Mereka bahkan menuding Mari itu seperti rubah, seratus persen rubah, karena belum lama masuk sudah menyerobot cowok sana-sini.


Soori mengkonfirmasi langsung pada Mari, apa benar dia dan Jaemin berkencan? Mari menggeleng. Soori menjelaskan pada Mari kalau Jaemin itu memang baik, tapi tidak pernah benar-benar baik, dalam arti mau mem-broadcast teman-teman untuk mencari adiknya Mari. Bagaimana orang seacuh itu mau melakukannya? Soori menilai hal itu aneh.
Mendengar komentar Soori itu membuat Ahra gerah. Dia mendekati Mari dan memberitahu kalau Mari dicari Guru Yoonjae yang minta ditemui pas jam istirahat.
Mari menemui Guru Yoonjae. Dia baru tahu kalau Guru Yoonjae adalah Pamannya Shihoo. Guru Yoonjae juga tidak menyangka Mari adalah vampir juga. Mereka seolah bertemu kawan senasib sepenanggungan. Yoonjae menawari Mari makan siang dengan menu spesial jus darah.


Pada kesempatan itu, Guru Yoonjae minta Mari mengajak Jaemin dan Shihoo main musik lagi. Dia juga menekankan Mari membantu Shihoo untuk keluar dari blacklist VCS. Lagipula Shihoo tidak punya teman selama ini. “Bukan kalian teman kecil?” tanya Guru Yoonjae membicarakan hubungan Mari-Shihoo.
Mari mengaku Shihoo sempat tinggal di rumahnya selama dua hari. Dia ingat itu saat di mana Shihoo kehilangan orang tuanya. Guru Yoonjae mengatakan orang tua Shihoo dicokok pihak VCS untuk diganjar hukuman An Chi. Dia menambahkan kehilangan Kakak dan Kakak Ipar, karena hukuman yang sama. Dia bergidik membayangkannya. Hukuman An Chi lebih buruk daripada kematian! “Terus apa yang terjadi?” tanya Mari.
Adegan dipotong. Hanya diperlihatkan Mari keluar dari ruangan guru. Ahra yang sedari tadi menunggu Mari mendekatinya. Senyumnya tampak manis (ada maksud terselubung?). Dia mengajak Mari bergabung di klub tari. Mari menolak, karena tidak bisa menari. Dia mengucapkan terima kasih karena telah menawarinya.


“Kamu nggak usah berterima kasih begitu padaku,” ucap Ah Ra, “Itu memang tugasku. Membantu siswa pindahan.” Mata Mari berbinar. Dia memberikan alternatif. Alih-alih masuk ke klub tari, dia memilih masuk ke klub musik – membentuk grup band. Senyum manis di wajah Ahra raib seketika.
“Aku tahu ada klub musik yang ingin membentuk grup band. Guru Han bisa mengajari kita. Bila kita bergabung se-band, kurasa aku bisa menggunakan bantuanmu. Kamu mau melakukannya?“ Ahra tersenyum kecut.
Adegan berpindah kembali saat Mari menuju ruang musik. Dia memukul kepala sendiri, menyesal telah mengatakan hal-hal konyol seperti tadi pada Ahra. Dia tercenung beberapa jenak di depan pintu ruang musik.
Bersambung ke sinopsis Orange Marmalade episode 3 - bagian 2.
0 komentar:
Post a Comment